Kamis, 25 Februari 2021

Ilmu yang Membersamai Amal

Kadang jiwa kekanak2anku memberontak, berpikir lagi betapa nyamannya menjadi anak kecil, tak memusingkan resah gundah pikirannya orang dewasa, tak memikirkan keruwetan pekerjaan yang semakin nano nano dan membutuhkan multitasking. merapikan rumah, bekerja, memasak, mencuci, menjemur, pergi kondangan, membayar pajak, belanja keperluan sekeluarga, berpikir besok mau masak apa ya, pinter-pinter aja bagi kerjaan sama pak suami ya. Apalagi yang punya baby atau sedang dalam masa pengasuhan / pendidikan anak, mashaAllah ya skema kehidupan ini. Aku rasa manusia pada dasarnya adalah pribadi-pribadi yang tangguh, demikianlah Allah menciptakannya bersamaan dengan rizki dan ujiannya masing-masing.

Kutarik fakta hidup, kukembalikan dari kenangan masa-masa kecil dan remaja (yang dulu pernah kupikir penat, tapi nyatanya kehidupan di middle age - merasa tua 😅-, bisa membuatmu sewaktu-waktu penat juga dengan hiruk pikuknya.

Kutarik lagi, faktanya, here I am. In the way to the middle age, inshaAllah... Faktanya adalah itu, dan tak bisa kulari dari fakta itu.

Rasanya seperti terjebak, padahal sebenarnya tidak, mungkin, perasaan terjebak itu muncul dari fakirnya ilmu. Ya, aku rasa tidak ada jalan lain untuk menyeimbangkan kondisi kita masing-masing saat ini selain dengan menambah ilmu, setidaknya ilmu sadar akan fakta-fakta / problema yang ada dan bagaimana menyelesaikannya.

Seperti mencari ilmu belajar dalam hal membagi waktu, belajar mengelola keuangan, belajar mendidik keturunan, belajar memasak, belajar berbenah, belajar untuk sabaarr, belajar dan belajar. 

Sangat baik jika kita sudah mempelajarinya lebih awal karena idealnya ilmu mendahului amal, walau tak ayal juga sewaktu-waktu kita bisa belajar dari amal yang mendahului ilmu.

Yah, cukup sudah kumemahaminya. Mungkin apa yang kurasakan saat ini adalah karena amal-amalku perlu lebih menggandeng ilmu-ilmunya untuk berjalan bersama :)