Minggu, 11 Oktober 2015

Pengingat

Terkadang, kita butuh mundur sejenak, entah untuk me time atau bercengkrama dengan teman-teman lama, hanya untuk bisa melihat lebih luas.

Terkadang, kita butuh menolehkan kepala kita ke kanan dan ke kiri hanya untuk melihat dunia ini secara lebih bijak.

Terkadang, kita butuh melakukan hal positif di luar yang biasa kita lakukan, hanya untuk merasakan lebih jauh, mensyukuri kondisi kita, atau malah memacu diri kita.

Mungkin jenuh itu bukanlah alasan utamanya. Sudut pandanglah yang harusnya dicari. Bukan bujur sangkar, lingkaran, atau oval, tapi sudut pandang yang seperti bola. Bola yang mampu memantulkan dirinya ke berbagai sisi.

Sayangnya, ketika terpantul terlalu keras ia akan berbalik.
Tapi... bukankah ia akan berbalik lagi pada perihal yang melemparnya? Ya... pantulan-pantulan keras itu harusnya tidak ditinggalkan tapi diselesaikan.
Mundur sejenak, bukan menjauh. 
Menoleh sejenak, bukan berlari ke samping dan pergi. 

Atau, ia akan berhenti sejenak ketika pantulan itu tidak keras, nyaman mungkin. 

Terkesan labilkah? Dinamis? Atau fleksibel? Tergantung sudut pandang kita sejauh mana mampu mengambil sisi positifnya. Hemm... tapi bukankah memang tidak ada yang abadi? Tidak ada yang tidak datang, tidak ada yang tidak pergi. Semuanya akan berputar, bergantian, dari satu sisi ke sisi yang lain, dari sisi sana ke sisi sini,

karena dunia ini pun masih berputar.

Sabtu, 27 Juni 2015

Yogya Trip, Januari 2015

Kali ini aku akan melanjutkan cerita perjalananku dan 5 orang teman ke Yogya. Cerita yang ini kurang lebih cerita selama aku dan teman-teman tinggal di sana (rumah eyang salah satu temanku).

Sebelum berangkat ke Yogya, kami sudah membuat jadwal sendiri. Kami berencana menginap di Yogya selama lima hari empat malam dengan jadwal ke beberapa area kota dan area wisata, dari mulai pantai hingga dataran tinggi (kaki gunung).

Hari 1 adalah hari kami tiba di Yogya (sudah diceritakan di kisah sebelumnya).

Hari 2
Di hari kedua ini, kami merencanakan mengunjungi pantai. Di manakah pantai-pantai di Yogya? Tentunya di area selatan dari Provinsi Yogyakarta ini. Ya, di selatan Yogya berbaris berbagai jenis dan nama pantai yang tentunya berbeda-beda walaupun masih berada di satu garis selatan Pulau Jawa. Daerah selatan dengan banyak kawasan pantai itu dinamakan Gunung Kidul. 

Ternyata oh ternyata, Gunung Kidul itu bukanlah kawasan gunung, justru merupakan kawasan pantai (jujur aku baru tahu saat merencanakan perjalanan ini). Ya, Yogyakarta merupakan sebuah provinsi yang terbagi dalam lima wilayah: Sleman, Yogyakarta, Kulon Progo, Bantul, dan Gunung Kidul (sekian kali ke Yogya, baru sadar tentang lima kawasan ini dan letaknya masing-masing).

Kami berangkat menuju Gunung Kidul dengan mobil pribadi milik teman kami, yang kebetulan ia sedang berdomisili di Yogya karena tuntutan pekerjaan. Jadilah aku dan teman-teman sebagai tim nebengers, berhubung juga memang sulit menggunakan transportasi umum di Yogya. Eniwei, terima kasih banyak yaa Suha dan adiknya, Hasna :") .Tanpa disadari, jalan menuju Gunung Kidul itu sepertinya merupakan jalan provinsi. Tangguh sekali dua orang temanku yang rela menyetir kendaraan menuju Gunung Kidul ini. Di sana, kami mengunjungi beberapa pantai, yaitu Pantai Sepanjang, Pantai Drini, Pantai Sundak, dan Pantai Indrayanti yang memiliki karakternya masing-masing. Kami menghabiskan waktu hingga sore hari untuk melihat sunset. Sayangnya, hari itu cuaca mendung. Tidak lama dari tibanya kami di Pantai Indrayanti, gerimis mulai turun dan kami pun segera pulang. For your info, ketika mulai memasuki jalan kendaraan menuju lokasi pantai-pantai ini, (jalannya cukup jauh dari jalanan lebar yang kami duga sebagai jalan provinsi tadi) jalanan mulai menyempit, mungkin hanya cukup sekitar dua mobil dan itu pun sangat mepet. Selain itu, tidak terdapat lampu jalanan yang membuat pengendara bermotor hanya dapat mengandalkan cahaya lampu kendaraan, cukup bahaya sepertinya jika kami masih di sana hingga matahari terbenam, sehingga kami pun memutuskan pulang sebelum itu. Di antara perjalanan dari Gunung Kidul menuju Yogya, kami sempat mampir makan malam di Bukit Bintang. fyi: harga satu kali makan di Yogya (saat aku ke sana) relatif murah, +/- 20.000 rupiah sekali makan sudah dengan minum.


 Pantai Sepanjang

 Pantai Drini, foto dari arah karangnya
Pantai Sundak, cukup sepi dan tenaaaang

 Pantai Indrayanti, ramai, udah mau magrib, dan udah mau ujan - buru-buru pulang

 Bukit Bintang, bintang itu adalah lampu-lampu yang terlihat seperti bintang dari arah bukit ini

Hari 3
Kaki Gunung Merapi
Alhamdulillah ternyata diberi kesempatan juga untuk mampir ke kawasan Gunung Merapi, walaupun hanya kaki gunungnya saja. Nggak kepikiran bisa juga ke kawasan ini, berhubung aku sendiri tidak terlalu suka mendaki karena kadang-kadang bisa bikin sesak napas (I love beach much more than mountain!). Namun, kunjungan ke Merapi yang kami rencanakan ini bukanlah hiking yang bisa dikatakan perlu persiapan matang. Kunjungan kami lebih berupa wisata menuju kaki gunung dan beberapa tempat bersejarah letusan Gunung Merapi beberapa tahun yang lalu, sehingga kami hanya berbekal jaket hangat, air minum, sedikit (hanya 1) cemilan, dan kamera. Ya, terdapat tour menuju kawasan Gunung Merapi dengan menggunakan jeep. Tur ini bisa dipesan beberapa hari sebelumnya dan kita dapat dijemput langsung dengan jeep dari area kita menginap. Jeep inilah yang nantinya akan membawa kita langsung menuju kawasan Gunung Merapi. Waktu untuk melakukan tur pun beragam. Kami memilih waktu berangkat subuh agar dapat melihat sunrise di kaki Gunung Merapi. Kira-kira pukul 8 pagi kami sudah mulai turun kembali dari kaki gunung menggunakan jeep yang sama.

Pengalaman ini cukup seru, kami bangun dan berangkat sebelum subuh (lumayan lelah juga karena sehari sebelumnya sudah melakukan perjalanan lumayan jauh ke Gunung Kidul), solat subuh dilakukan di Mesjid yang kami lewati (masih di area Kaliurang, namun sudah mendekati kaki gunung). Hawanya dingiiiin dan gelap, bahkan masih ada bulan. Semakin mendekati gunung, kami mulai memasuki kawasan hutan-hutan, jalanan yang cukup terjal (tentunya masih dapat dilewati jeep), juga sungai yang katanya sudah mengering karena merupakan jalur aliran lava saat Merapi terakhir kali memuntahkan isi perut bumi (tentu saja kami tidak dapat melihat dengan jelas sungai yang dimaksud pemandu wisata yang sekaligus merupakan pengendara jeep tersebut - gelap gulita dan dingin).

Sesampainya di kaki gunung (yang pastinya masih cukup gelap), kami dipersilahkan mampir di warung yang ada (sejenis warung kopi yang menjual wedang-wedangan, cemilan, dan minuman hangat lainnya). Di warung inilah pertama kalinya aku mencoba wedang gedang (wedang + pisang), rasanya cukup unik tapi memang cukup ampuh untuk menghangatkan tubuh saat itu (rasa-rasanya, aku tetap lebih suka wedang ronde).

Singkat cerita, ketika langit mulai sedikit terang, kami mulai berjalan melewati bangker yang berada tidak jauh dari warung tempat kami istirahat. Kami sedikit mendaki, melewati rumput-rumput dan ilalang kecil. Di depan kami Gunung Merapi dan di belakang kami terhampar pemandangan kelap-kelip lampu kota Yogya, mashaAllah indahnya...

Sekitar pukul 8, kami mulai turun dari kaki gunung (menggunakan jeep). Kami sempat mampir ke beberapa rumah-rumah yang hangus dan hancur karena letusan Merapi beberapa tahun sebelumnya. Dari kejadian saat itu, disarankan bahwa sebaiknya area huni berada sekitar 17 km dari kaki gunung (agak-agak lupa, kalau tidak salah sekitar segitu). Betapa pentingnya pengaturan hunian agar dapat mengurangi jumlah korban bencana alam.
Candi Prambanan
Kunjungan ke Candi Prambanan dilakukan siang menuju sore harinya di hari itu. Candi itu buka hingga pukul 5 sore dan kami tiba di sana sekitar pukul 16.30. Tidak banyak yang kami lakukan di sana, hanya melihat-lihat sebentar dan berfoto. Saat itu pun baru saja hujan. Rintik-rintik tetesan gerimis juga masih terasa ketika kami mengunjungi kawasan Candi Prambanan ini.


Menghadap kota Yogya dari kaki gunung di waktu subuh (Agak blur, cukup susah mengambil foto dalam gelap)

Menghadap gunung Merapi (terlihat datar, tapi sebenarnya ini jalan menanjak, lewat batu-batu, rumput kecil, dan ilalang)

Mataharinya malu-malu, yang terlihat cuma segini, tapi tetep indaah

 Rangka kelinci (akibat terkena letusan gunung merapi). Kunjungan ke rumah-rumah yang sudah rusak dan dijadikan museum kecil
Sudah tahu lah ya, ini Prambanan (Lagi hujan, banyak yang payungan)

Hari 4
Museum Kereta
Museum ini isinya berbagai macam kereta kencana yang pernah digunakan Kesultanan Yogyakarta. Baru pertama kali aku ke sini dan cukup takjub melihat berbagai jenis kereta kencana, dari yang hanya dua roda hingga empat roda, dari yang terbuka hingga yang tertutup, dari yang digunakan untuk mengangkut manusia hingga yang digunakan untuk mengangkut jenazah, dari yang terlihat sederhana hingga yang terlihat mewah, dari yang masih digunakan hingga yang sudah tidak digunakan lagi.

Tiket izin foto
 
Harga tiket masuknya juga tidak menguras kantong banyak, sedikit lupa, tapi masih di bawah lima ribu + tiket izin foto seribu rupiah. Lumayan untuk menambah wawasan tentang sejarah dan pengetahuan tentang transportasi yang pernah digunakan sultan-sultan. Lokasinya sendiri tidak terlalu jauh dari kompleks Kesultanan Yogyakarta.
Keraton Yogya
Mungkin cukup banyak orang yang sudah pernah mengunjungi Keraton Yogya. Lokasinya memang cukup strategis, di tengah kota, sehingga tidak cukup sulit untuk mencapai area ini (walaupun memang tetap lebih efektif menggunakan transportasi pribadi menuju lokasinya). Kali ini, kedua kalinya aku berkunjung ke Keraton Yogya. Tidak banyak yang kuingat dari kunjungan pertamaku ke Keraton Yogya (masih kecil banget, waktu SD).

Hari itu cukup ramai, ada turis dan ada pula rombongan pariwisata. Tidak banyak yang bisa kuceritakan, tapi cukup menarik juga melihat beberapa aktivitas yang sedang berlangsung di Keraton Yogya. Beberapa abdi dalam dan juga pemandu terlihat melakukan aktivitasnya di Keraton Yogya ini. Di sini kita juga dapat melihat beberapa koleksi keraton dan mengalami ruang-ruang di dalamnya, baik di ruang terbuka maupun di beberapa bangunannya.
Taman Sari
Taman Sari merupakan area pemandian sultan zaman dahulu. Kini, dijadikan sebagai objek wisata saja. Saat itu kami ditemani oleh pemandu wisata yang menceritakan sejarah dari area ini dan bagaimana kondisinya saat ini. Kabarnya, area ini merupakan sumber mata air, namun saat ini sudah tidak banyak jumlah mata air aslinya. 

Keluar dari area Taman Sari, kami diarahkan melewati jalan setapak kecil di balik area Taman Sari. Terlihat rumah-rumah kecil masa kini yang aku dan teman-teman sadari sebagai area perkampungan kota (hunian) bagi penduduk setempat. Tidak jauh kami berjalan, sampailah kami di Masjid bawah tanah (lupa nama asinya). Kini, masjid ini sudah tidak difungsikan. Untuk menuju area wudhu dan area solat dari masjid ini, kami harus turun ke bawah (seperti turun menuju area kereta bawah tanah), melewati lorong yang cukup besar, berbelok, masih lorong, dan kami pun tiba di area masjid tersebut. Tidak seperti tipologi masjid yang sering kita lihat saat ini di mana-mana di wilayah Indonesia khususnya. Masjid in berbentuk melingkar dengan area wudunya di tengah-tengah masjid (tentunya kiblatnya tidak mengarah ke tengah). Jadi, hanya susunan ruang solat masjidnya saja yang melingkar (benar-benar melingkar seperti donat yang area tengahnya adalah ruang terbuka - area wudhu). Terbayang sepertinya pada masa digunakannya masjid ini cukup megah.

Setelah kami mengunjungi Taman Sari, tujuan kami berikutnya adalah Malioboro. Wisatawan Yogya mana yang tidak tahu area ini. Selain oleh-oleh yang banyak dan tumpah ruah, dari segi ruang, area ini memang cukup unik. Di sini, kita masih bisa melihat delman dan becak (konturnya relatif datar, tidak seperti di Kaliurang). Beberapa hotel besar, oleh-oleh makanan kerajinan, pakaian, batik, maupun makanan juga berpusat di area ini.

 Salah satu kolam pemandian di Taman Sari

 Area solat masjid bawah tanah, Taman Sari (melingkar)

 Area wudhu masjid bawah tanah Taman Sari

Hari 5
Museum Merapi

Kamis, 25 Juni 2015

On the Way to Yogyakarta, Januari 2015

Sebelumnya, mohon maaf ya, ini tulisan late post banget. Tadinya udah nyerah nggak mau nulis karena terkendala berbagai kesibukan (sok sibuk). Tapi kok, kayaknya sayang yaa. Mungkin sebaiknya kita mulai saja ceritanya:

Januari ini aku berkesempatan menginjakkan kaki lagi di Jogja, entah untuk keberapa kali. Namun, kali ini berbeda, tidak hanya sekedar lewat atau mampir karena mudik dari Jawa Timur ke Jawa Barat. Bukan pula karena tur sekolah yang itinerary-nya sudah terjadwalkan. Ini murni liburan yang kuatur sendiri bersama lima orang temanku. Naik apa, turun di mana, menginap di mana, ke mana saja, semua diatur sendiri.

Perjalanan dimulai dari Jakarta, kami menaiki kereta dari Stasiun Senen yang sudah kami pesan tiketnya secara online sebelumnya. Di stasiun kami hanya mengeprint tiket tersebut secara mandiri. Satu jam sebelum keberangkatan, kami sudah berada di dalam kereta, duduk manis menunggu kereta ini melaju. Banyak yang terlihat, orang membawa barang, orang berpapasan di tengah gerbong kereta dan sedikit bergumam atau menggerutu karena langkahnya menuju tempat duduk yang sudah dibelinya terhambat. Itulah kenapa mungkin kereta punya dua pintu, untuk memudahkan penumpang mencapai kursinya masing-masing. Sayangnya tidak semua penumpang paham akan keberadaan kursinya secara tepat.

Perjalanan memakan waktu cukup lama, kurang lebih 8 jam. Selama itu, kami memandang apa saja yang terlihat dari jendela, ini baru namanya cuci mata :) , walaupun kaca kereta sedikit mengaburkan pemandangan karena terlapisi debu-debu yang sepertinya sudah melekat pada kaca tersebut . Tapi, berjam-jam duduk tidak membuat kami terlepas dari kebosanan, tentu saja 8 jam duduk itu membosankan! Ketika kereta berhenti di salah satu stasiun di Jawa Barat, aku memutuskan untuk berdiri dan keluar kereta sejenak. Lumayanlah untuk meluruskan kaki yang sedari tadi tertekuk.

Perjalanan pun kembali berlanjut. Di sela-selanya, kami mencoba untuk tidur walaupun tidak terlalu nyaman, sayup-sayup terdengar pramusaji menawarkan makanan ataupun minuman, kereta juga berhenti di beberapa stasiun, namun tidak terlalu lama. Menjelang magrib, keluarga yang duduk di seberang tempat dudukku mengeluarkan bekalnya dari sebuah termos, makan bersama dan terlihat seperti sedang piknik. Terlihat merepotkan, namun cukup menyenangkan bukan, berpelesir bersama keluarga dan menikmati hidangan bersama.

Delapan jam berlalu, kami tiba di St. Lempuyangan, Jogja. Gerbang keluarnya langsung menuju jalan raya yang tidak terlalu besar, kira-kira cukup untuk dua mobil dan dua becak berjejer. Banyak orang hilir mudik membawa barang, menawarkan taksi ataupun becak. "Monggo Mbak, Malioboro?" begitu ujar salah satu penawar taksi. Tujuan kami adalah Kaliurang, yang jaraknya sekitar 20an km dari st. Lempuyangan, lumayan tidak dekat. Oh ya, aku baru tahu, ternyata taksi di Jogja ada yang menggunakan tarif sesuai argo dan ada pula yang tidak. Kami memutuskan menuju Kaliurang menggunakan taksi dengan tarif sesuai argo dan ternyata lebih murah dari penawaran taksi tanpa argo, sebelumnya, saat kami benar-benar baru keluar dari st. Lempuyangan.

Melihat Jogja malam hari, tidak terlalu membuatku heran. Sekilas tampilannya mirip dengan kota-kota besar di Indonesia. Ya, tapi tentu saja tetap ada bedanya, pertokoan dengan nama-nama yang tidak biasa kulihat, juga lengangnya jalanan malam hari itu, entah karena hari itu menjelang weekend atau memang setiap hari kondisinya seperti itu. Kami tiba di rumah eyang salah satu temanku sekitar pukul 20.30, belum terlalu malam. Di sanalah kami menumpang menginap, di Kaliurang. Baiknya temanku ini menawarkan penginapan di rumah eyangnya :"))

Oh ya, sebagai info, di Jogja tidak banyak kendaraan umum yang kulihat, terutama angkot ataupun bus. Becak dan delman ada, tapi tentunya hanya untuk jarak dekat. Trans Jogja, salah satu transportasi umum berupa bus juga ada, tapi sepertinya armadanya tidak terlalu banyak. Bus umum lainnya ataupun angkot juga jarang kulihat. Pernah sekali aku melihat angkot, tapi sepertinya tidak ada sign yang jelas untuk menandakan trayek angkot tersebut. Cukup disayangkan memang, apalagi Yogya merupakan area wisata yang cukup terkenal di Indonesia.

Sekian dulu cerita awal dari perjalanan Yogya kali ini. Akhirnya bisa juga dipost,hahaha...


 Kira-kira satu orang dari kami bawaannya kayak gini (Bergaya ala backpacker ceritanya)


Cetak tiket, yeeiiy... *girang banget, baru pertama kali nyetak ginian

Kado Terspesial

Banyak sekali kado-kado spesial yang mungkin pernah kita terima dari sanak kerabat, baik orang tua, saudara, sahabat, ataupun teman. Entah saat kita lulus sesuatu, ulang tahun, ataupun sekedar menjadi kenang-kenangan atau cindera mata. Ya, tentunya itu semua spesial. Tapi, ada satu kado yang menurutku adalah kado terspesial, ialah sebuah doa. Sebuah doa dari sebuah hati yang tulus ikhlas dan jiwa yang sadar dan berniat baik dalam melantunkannya.

Sebuah doa tidak perlu dibeli untuk diperoleh, tidak perlu pula dikemas ataupun dihias, tidak perlu juga dikirimkan melalui pos atau jasa kurir lainnya. Bahkan, sebuah doa dapat menjadi kado terspesial teruntuk orang yang sudah tiada, orang tua, kakek-nenek, ataupun kerabat lainnya. Sebuah doa yang hanya perlu dipanjatkan dengan benar-benar khusyu dan ikhlas sehingga ia menjadi kado terspesial.

Bukan berarti kado spesial itu tidak diperlukan, ia dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi orang yang menerimanya, tapi jangan lupakan kado terspesial yang mungkin hanya dikabulkan bagi orang-orang yang benar-benar khusyu dan tawadhu dalam memohonnya.

Jumat, 19 Juni 2015

Sekali lagi Tersadari

Sudah lama ya tidak mengisi blog lagi. hehe... Sekarang sudah masuk bulan Ramadhan 1436 H :) Tadi sahur, sengaja ngga sengaja aku pindahin chanel TV ke siaran Quraish Shihab. Beliau mengatakan hidayah itu datangnya dari niat. Aku jadi berpikir, mungkin kalau ada orang bilang belum siap ya itu karena dia belum niat aja, atau mungkin niatnya belum lurus. Kalau saja dia niat, inshaAllah terlaksana-terlaksana aja. 

Katanya, makanya kalau niatnya udah oke, tekad kuat yang dimiliki bisa lebih dahsyat dari kekuatan amarah sekalipun. Mantap ya, sekali lagi tersadari kalau inna mal a'malubinniat itu kekuatannya dahsyat.

Jadi ingat juga, satu orang dosenku pernah bilang, ngga ada yang namanya orang ketiduran, yang ada emang orang itu niat tidur, walaupun sepersekian detik antara sadar dan tidak sadarnya. Di antara sepersekian detik itu, ada waktu di mana akhirnya ia memutuskan untuk terlelap.

Cukup sekian sharing-sharing kali ini :")

Jumat, 20 Juni 2014

Sidaaaangg, sebuah Momen Penting... Akhirnya, tapi Belum Akhir

Dua hari yang lalu, 18 Juni 2014, sehari sebelumnya aku sudah meminta didoakan oleh eyang, restu orang tua, kakak, saudara, teman-teman juga tak lupa tentunya berdoa kepada Allah SWT supaya sidangku lancar dan berjalan dengan baik. Hari itu, 18 Juni 2014, sidang skripsiku berlangsung, 13.38-13.48 dimulai dengan prsentasiku. 

Entah kenapa bukan dag dig dug yang dirasakan tapi suatu ketegangan untuk mencoba tenang. Sepuluh menit untuk presentasi berlalu, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Dimulai dari salah satu penguji, lalu menjawab pertanyaan. Dilanjutkan dengan pertanyaan penguji lainnya, lalu mencoba menjawab lagi. Tiba-tiba berkelit, berpikir dalam detik-detik yang cukup menegangkan. Berpikir ulang apa yang sudah kutulis dan kupikirkan, benar tidak ya? nano-nano rasanya. Tidak sempat berpikir sudah menit keberapa saat itu. Tapi entah kenapa tidak terlalu terasa lama daan.... akhirnyaa. Selesai juga sesi sidang itu dengan berbagai catatan-catatan dan memori yang merekam pertanyaan dan masukan-masukan yang sesegera mungkin kuingat kembali dan kucatat. Fyuuh... dalam detik-detik berakhirnya sidang itu 'Asa bucat bisul' kalau kata Fadila Aliqa, kelegaan yang tak tergambarkan.

Tapi selain hal-hal menegangkan di atas, serunya lagi setelah sidang berlangsung. Kita, bisa bertemu teman-teman di luar, foto-foto bareng, dikasih ini itu, dan salam sana sini yang memang merupakan momen yang nggak tahu kapan lagi terjadinya. 

It's all about friendships, something that we won't have in a short time, it takes years. Sometimes it felt so fast, but it very worthy indeed. A happy moment that we don't know when it will happen again. Hopefully we all could pass it in a good way friends,architecture UI 2010 for the graduation at the same time in this 2014 August. Aamiiin..

Sayangnya akhir sidang itu memang belum akhir, perjuangan akan dilanjutkan dengan revisi dengan deadline seminggu setelahnya. It means that today is five left days. Ok, ayo semangaaaat!!!

Rabu, 04 Juni 2014

Mewadahi Sekaligus Mendidik

Tulisan ini dibuat di tengah-tengah persiapan sidang skripsi dan deadline pengumpulan tugas akhir mata kuliah anatomi ruang. Tulisan ini juga dibuat dengan berbagai pemikiran dan pemahamanku tentang arsitektur setelah hampir empat tahun berkenalan dengan dunia ini. 

Tugas akhir anatomi ruang ini cukup unik dan menantang sebenarnya. Aku dan teman-teman satu kelas diberikan tugas merancang salah satu bagian ruang dari SLB (Sekolah Luar Biasa). Sekolahnya benar-benar ada dan kami pun harus survey ke lokasi dan melihat langsung keseharian anggota atau penghuni SLB tersebut.

Baiklah, anak-anak yang bersekolah di SLB ini sebagian merupakan anak-anak yang mengidap autisme, sebagian lagi anak-anak tuna grahita, tuna rungu, tuna daksa, dan tuna netra. Di sini, aku tidak akan membicarakan tugasnya ataupun psikologi pengidap kasus-kasus tersebut, melainkan pentingnya mengetahui untuk siapa kita merancang.

Pengidap kasus-kasus tersebut, tidak bisa dipungkiri adanya. Tetap memerlukan perjuangan hidup, keseharian, kehidupan, dan sebagainya. Mendapat tugas ini membuatku berpikir bahwa arsitektur tidak hanya mempelajari orang-orang awam dan kebiasaan orang-orang pada umumnya. Ada yang lain yang juga membutuhkan arsitektur untuk menjalani kebutuhan hidupnya secara lebih baik lagi. 

Pengidap autisme tidak bisa disamakan dengan orang awam, begitu pula pengidap kasus lainnya. Antar kasus pun tidak bisa disamakan. Nah, inilah tantangannya. Dunia itu satu, tapi diisi oleh beragam macam manusia dengan berbagai kebutuhan, baik kebutuhan mayoritas maupun kebutuhan minoritas (yang sering pada umumnya disebut berkebutuhan khusus).

Membuat sebuah desain yang dapat digunakan oleh berbagai macam kalangan bukanlah hal yang mudah. Setiap orang memiliki kebutuhan ruang yang berbeda. Di sisi lain, arsitektur bukanlah hanya sekedar wadah. Arsitektur bukan sekedar tempat biasa yang diisi oleh orang-orang yang beraktivitas semaunya. Arsitektur bisa mendidik melalui ruang-ruang yang terbentuk di dalam dan luarnya. Inilah tantangan sesungguhnya. Seperti yang sudah diungkapkan sebelumnya, membuat desain untuk berbagai kalangan dan kebutuhan itu tidak mudah dan ditambah membuat desain yang mendidik bagi masing-masing kalangan tidak juga mudah. Walaupun demikian, menurutku itu menyenangkan dan sangat penting. Itulah salah satu peran perancang dan arsitektur. Membuat ruang yang mewadahi sekaligus mendidik. hmm... Semoga aku bisaa..

Sabtu, 03 Mei 2014

Satu Perjuangan

Kejadian ini terjadi empat hari yang lalu, ketika aku dan seorang temanku dalam kondisi dikejar deadline skripsi, dan satu orang temanku sedang dalam proses TAnya, kami memaksa mengejar deadline sebuah perlombaan. Hal ini berawal dari dua bulan yang lalu, ketika kami berniat mengikuti suatu lomba desin furniture. Kami pun memulainya, berdiskusi setiap minggu, membuat target, pencapaian, serta memikirkan ide dan desainnya.

Tapi membuat,  membangun, dan menyatukan ide dan desain bukanlah hal yang mudah yang bahkan satu hari jadi. Banyak referensi yang perlu kami baca, terdapat pula beberapa pro dan kontra terhadap ide kami masing-masing. Tapi itulah serunya, saling membuka pikiran dan melampiaskan ide-ide yang sebenarnya berputar di kepala. Nah, kadang muncul godaan lainnya, bumbu-bumbu cerita yang lain yang kadang berada di luar konteks diskusi kami. Gawat sebenarnya. Tapi ya, kalau namanya wanita ketemu, obrolannya bisa ke sana ke sini. Itu secuil fenomena dalam kegiatan ini. Hmm... Katanya perjuangan, mana perjuangannya?

Hmm.. baiklah. Berhari-hari sejak hari itu kami jarang bertemu, sibuk skripsi, sibuk TA. Hanya via social media dan mobile saja kami berdiskusi ria. Hmm.. padahal kami sudah daftar. Sempat bertemu beberapa kali untuk membicarakan hal ini, tapi tidak terlalu intens. Sampai tibalah hari H, yaitu empat hari yang lalu itu. Perasaanku antara ingin meneruskan dan tidak. Kerja tim itu butuh kekompakan. Mengerjakan suatu hal itu juga butuh tekad yang kuat dan komitmen. Kalau tidak teringat pepatah 'jangan berhenti berjuang sampai titik darah penghabisan' aku akan berpikir untuk berhenti, menyerah. Tapi bukankah kesempatan itu tidak datang dua kali?

Aku dan teman-temanku pun memutuskan melanjutkan, karena kami sudah mendaftar, sudah membuat sedikit proposal, sudah membuat model di sketchup ketika pembagian tugas kemarin.Kami memutuskan mengerjakan di perpustakaan pusat kampus kami, yang tentunya bisa dapat wifi dan listrik gratis. *bayar sih sebenarnya dari uang kuliah. Tapi yang terpenting adalah nyamannya perpustakaan itu untuk bekerja.

Pagi sampai siang kami tidak bisa mengerjakan karena sibuk dengan kerjaan masing-masing, akhirnya baru sorelah kami bisa bertemu. Kami menemukan beberapa ide baru, sehingga sketchup yang dibikin masih perlu beberapa sedikit perubahan. Proposal ide juga masih perlu dilanjutkan dan diperbaiki di beberapa hal. Kami berpikir akan selesai pukul enam sore, tapi ternyata tidak. Perpustakaan pun sudah menuju waktu tutupnya, terpaksa kami pun harus pindah tempat, sekalian bangkit untuk solat magrib.

Kebetulan di bawah bagian perpustakaan pusat ini ada tempat makan yang menyediakan listrik untuk laptop. "Kita tinggal dikit lagi, di sini aja kali ya, tutup jam delapan" ujar salah satu dari kami. "Mba, ada colokan nggak?" itu yang pertama kali terucap saat kami memasuki tempat makan itu. Alhamdulillah ada. Kami pun memesan makanan dan langsung mulai lanjut mengerjakan. Jarum jam mulai bergerak pada pukul 8, lirikan-lirikan mba-mba restoran ini sudah tertuju pada kami. Hanya kami tamu mereka saat itu, saat-saatnya mereka tutup. Oh tidak, harus selesai dan kami belum menyelesaikannya. Terbersitlah lagi "ayo pindah tempat". Berhubung kami tidak ada yang ngekos, kami berpikir untuk berpindah ke minimarket terdekat yang memang menyediakan listrik dan wifi (tentunya untuk kami mengirim file secepatnya). Pindah ke rumah bukan solusi yang baik juga sepertinya, karena kami butuh fokus dan sedang dikejar deadline. Kami pun pindah dengan berjalan kaki dari perpustakaan pusat menuju jalan raya di depan kampus kami, kira-kira butuh setengah jam untuk sampai di minimarket itu, apa boleh buat, itu akses termurah dan tercepat. 

Sesampainya kami di minimarket, kami mulai melanjutkan kerjaan kami, pukul 9 dan akhirnya pukul 10, menurutku tidak terlalu baik sebenarnya masih berada di luar rumah pada jam segini tanpa membawa kendaraan pribadi. Sebenarnya minimarket ini sendiri masih penuh dengan orang-orang yang sepertinya sedang melepas lelah, kalau menurut ilmu yang kupelajari di Metode dan Teori Perancangan Lingkungan, ini yang dinamakan third place bagi orang-orang yang sedang melepas lelah setelah pulang dari kantor atau pekerjaannya. Tapi bagaimana di jalan arah pulang? Apakah sepi? Apakah aka tidak ada apa-apa? Pikiran itu terlintas di sela-sela aku berkerja juga. Pada akhirnya, jam 10 kami selesai dan mengirim. HHhh.. akhirnya.

Ternyata kami bisa menyelesaikan tantangan ini. Tapi sayangnya perjuangan tidak hanya sampai di situ. Kebimbangan tentang bagaimana pulang tetap menjadi pikiranku. Aku tidak mau merepotkan orang rumah juga, akhirnya kubulatkan tekad untuk pulang ke rumah, dengan berbagai pikiran yang was-was sembari berdoa. Berdoa, memang itu senjata orang muslim dan berserah diri pada yang di atas. Itulah yang bisa kupikirkan ketika ada hal yang di luar jangkauan di luar kuasaku, karena yang Maha Kuasa hanya yang di atas. Dalam perjalanan aku hanya diam, melirik, dan was-was. Sekitar dua puluh menit kemudian, akhirnya aku sampai di rumah. alhamdulillah. Bagaimana dengan teman-temanku, alhamdulillah mereka juga sampai di rumah dengan selamat. 

Walaupun deg-degan tapi aku merasa lebih baik setelah kami dapat menyelesaikan lomba itu. Melalui satu tantangan adalah perasaan tersendiri karena kesempatan itu tidak akan datang dua kali. Walaupun belum tentu menang, tapi banyak hal yang menurutku dapat kita pelajari dari mengikuti satu kompetisi. Baik dari sisi mengatur waktu, bekerja sama, saling menyemangati, menantang diri sendiri dan memaksa diri sendiri untuk berkomitmen dan bertekad. Ini bukan yang pertama kalinya aku mengikuti perlombaan, tapi ini cukup membuatku deg-degan.

Kamis, 27 Maret 2014

Apa Motivasimu Hari Ini?

Terdapat berbagai motif orang untuk membuat motivasi ataupun termotivasi. Saya merasakan terkadang motivasi itu timbul karena kondisi kita yang sedang kurang menyenangkan. Motivasi timbul dengan sendirinya. Tapi, kadang kala motivasi itu perlu ditimbulkan, bukan untuk iseng tentunya. Ya untuk meng-encourage kita. Ketika kita merasa sudah cukup, merasa bosan, merasa jenuh, sering kali kemalasan yang menghampiri. Haruskah kita mengikuti itu? Di situlah kita perlu motivasi yang dibuat. 

Ketika saya berkunjung ke beberapa hunian seorang teman, entah itu kos-kosan atau rumah. Saat berkesempatan mengunjungi kamarnya, salah satunya seperti menumpang solat, sering saya melihat kata-kata motivasi tertempel di dinding, di balik pintu, ataupun di lemari.

Contoh lainnya, saat saya meminjam laptop teman saya, entah sekedar untuk memindahkan file atau mengecek sebuah tugas yang sedang dibuka di laptopnya. Saat sekilas halaman desktop-nya terlihat, sering kali juga ada kata-kata motivasi di sana.

Hal yang sama juga kadang terjadi pada desktop telepon genggam. Tidak selalu berupa kata-kata, adakalanya berupa wajah orang yang kita sayangi.

Di lain hal, terkadang kita juga perlu memotivasi diri dengan melihat-lihat kondisi di sekitar kita. Melihat hal yang ternyata jauh di luar dugaan kita. Seperti menyadarkan bahwa hidup tidak hanya sekedar 'itu' (sebut: hal yang membuat kita bosan, jenuh, atau malas). Menyadarkan kita bahwa kita memiliki potensi yang harusnya tidak terkalahkan oleh rasa bosan, jenuh, dan malas itu. Menyadarkan kita, mengingat tujuan kita.

Melihat contoh di atas, saya rasa ini terkait juga dengan rasa syukur. Seberapa jauh kita bersyukur dengan memaksimalkan potensi kita setiap harinya. Seberapa jauh kita berpikir untuk berbuat lebih karena meyakini bahwa kita bisa. Bisa dalam arti positif, bisa memanfaatkan anugerah yang sudah diberikan-Nya secara baik. Tetaap semangaaaat!!!

Jadi, apa motivasimu hari ini?

Jumat, 07 Maret 2014

Diri Kita

Mulut itu untuk berbicara,
Mata itu untuk melihat,
Telinga itu untuk mendengar,
Otak itu untuk berpikir,
Hati itu untuk menyaring pikiran, dan
Kaki itu untuk melangkah

Manusia itu hidup untuk menjalankan fungsinya, menjadi khalifah di bumi. Bermanfaat bagi dirinya sendiri, bagi sesama, juga menyembah kepada Allah swt.
Selagi memiliki fungsi-fungsi bagian tubuh kita termasuk jiwa dan raga kita secara baik, bersyukurlah dengan menggunakannya secara baik dan penuh manfaat dalam kebaikan

Sabtu, 21 Desember 2013

Satu Semester Ini

Kali ini, aku akan merapel beberapa cerita yang harusnya ditulis sebelum-sebelumnya. Hmm... Kira-kira setengah tahun ya berlalu. Banyak kejadian yang terjadi. Pertama, aku menyelesaikan magang, kedua, aku mendapat kesempatan untuk memperhatikan bangunan-bangunan di Singapur, dengan kata lain ya pergi ke sana, yeiy. Ketiga, ini tahun berakhirnya Studio Perancangan Arsitektur 5, Studio terakhir untuk program studiku saat ini,aamiin... Tapi sedih juga, semester depan gak ada studio. Tapi jujur yah, di bagian hidup yang ini, cukup kerasa antara pingin tetep kuliah atau melanjutkan hidup ini di luar tembok kuliah sana.Tapi intinya, yang tetap perlu dilakukan adalah ikhtiar.

Magang
        Menurutku, magang itu cukup penting, jadi cukup tahu dunia kerja kita nanti itu seperti apa. Banyak belajar juga tentang hal yang belum pernah kita pelajari di kampus. Waktu magang, aku belajar cukup banyak tentang material. Tugasnya sih, merapikan lemari material,wuu... Tapi, ya mau gak mau jadi hafal materialnya, katalognya di situ, contoh materialnya di situ, sampai cara penggunaannya, penamaannya, jadi tahu semua. Ini yang tidak dipelajari di kampus.
Tapi, bukan itu saja, menghitung luasan ruang di CAD, melayout tata ruang Townhouse dari suatu masterplan, lalu membuat maket 1:100 rumah yang luasnya 1000m persegi dan maket fasad satu hotel kecil, dan juga merancang fasad satu rumah milik orang Cina yang lebarnya 30m dan ternyata kalau tidak cocok sama yang diinginkan kliennya, bisa revisi berkali-kali.hmm... Cukup capek sih magang di biro arsitek. 
         Walaupun begitu, ada juga kok sisi nyamannya, mungkin karena penghematan waktu, makan siangnya di kantor, dan dibayarin sama kantor. Benar-benar hemat waktu sih, juga bisa hemat uang. Kurang lebih mirip sama dengan kegiatan di studio kampus, makannya  dibawa ke studio. Selain jadi bisa ngadem :p, ya bisa menghemat waktu.
          Oh ya, salah satu hal terpenting dari magang juga, bisa nambahin isi tabungan lho, walaupun memang tidak seberapa tapi lumayan. Sebenarnya tergantung tempat magangnya juga sih. Yah, intinya, semakin banyak hal positif yang dicoba semakin bertambahlah pengetahuan dan pengalaman kita.


Jalan ke Singapura
          Kalau yang satu ini, dilakukannya ramai-ramai satu studio. Caranya pun ala backpacker. Ini kedua kalinya aku ke luar negeri, dan pertama kalinya tanpa keluarga inti. Empat hari tiga malam dan menghabiskan kurang lebih Rp 3.000.000,00 !! Kalau dipikir-pikir termasuknya murah sih, dan cukup banyaklah pengalaman yang didapat.
        Setiap harinya aku dan teman-teman harus mengunjungi sekitar 7 bangunan untuk diamati, sebagai turis tentunya, jadi ya lebih merasakan ruang kotanya. Naik turun MRT, bus kota, jalan kaki. fuuh... kalau pakai sistem android menghitung langkah kaki per hari, ternyata sehari bisa sampai 27.000 langkah kaki! Itu tiap hari kakinya pegeeel banget, mainannya udah sama muscle pain release setiap pulang.
         Tips-tips ala hematnya adalah kami menginap di hostel dengan satu kamarnya untuk 10 orang, berhubung di sana orang satu studio yang jumlahnya 50 orang dibagi dalam beberapa kelompok kecil, jadi pas jalan tidak seperti rombongan yang lagi tur. jadilah kami satu kamar 10 orang, biayanya sekitar 180 ribu rupiah per malam (september 2013) sudah termasuk sarapan pagi roti dan air minum. Jalan kaki, naik MRT dan bus juga cukup menghemat uang. Satu tourist pass MRT bisa digunakan selama 3 hari untuk MRT dan bus kota, sistem yang oke menurutku. Nah, makannya pilih-pilih juga, kadang di tempat kecil, kadang fast food yang harganya standard, kadang di foodcourt seperti saat di Marina Bay Sands atau di Vivo City, intinya tidak akan masuk restoran mahal sih. Untuk minum, sebaiknya punya botol kosong. Di sana beberapa tempat menyediakan area isi ulang air minum, seperti bandara, hostel dan sebagainya.
          Yang paling penting juga adalah waktu solat. Waktu itu, pertama kalinya juga solat di tempat umum ruang terbuka yang orang dengan mudah lewat sana lewat sini, bahkan pernah di atas jembatan Handerson atau Wave bridge, dan cukup bahagia waktu ketemu mesjid di Orchard, di situ juga ada tempat isi ulang minuman.
            Backpackeran di negeri orang, dapat juga waktu-waktu nyasarnya, terutama saat naik bus kota. Sebenarnya naik bus kota lebih menyenangkan karena bisa melihat-lihat ruang kota. Jika naik MRT, yang kita lihat hanyalah terowongan gelap saja, walaupun memang risiko nyasarnya sangat sedikit karena jalurnya yang sudah terintegrasi walaupun jangkauannya jauh. Kalau naik bus kota, trayeknya cukup banyak, jadi perlu orang yang sudah berpengalaman atau ahli membaca peta dan trayek. 
          Jalan bersama sepuluh orang juga bukan hal yang mudah, ada yang mau ke sini, ada yang mau ke sana.hmm... belum lagi kondisi badan yang beda-beda, ada yang sudah letih ada yang belum, ada yang mau duduk dulu ada yang maunya buru-buru. Tapi itu semua pegalaman, dan di situlah kadang-kadang jadi bisa saling menguatkan dan jadi lebih mengenal satu sama lain. Juga jadi belajar menemukan arah baik melihat peta, bertanya, atau.. menduga-duga.hmm...
          Kapan-kapan, coba ke tempat lain ah.

  
(kiri) Berkunjung ke Areanya Duxton Pinnacle & (kanan) Naik Sky Ludge di Sentosa Island

Pemandangan dari atas Vivo City, cukup memberi inspirasi dalam berarsitektur :)

Lupa nama areanya, tapi ini di dekat gedung UOB, sebelah kiri perkantoran dan jalan, sebelah kanan sungai. Ruang terbuka yang cukup menarik, yang sayangnya belum bisa diterapkan secara efektif di Indonesia
 


(kiri) Nongkri-nongkri sambil ngecharge HP di Bandara Udara Changi & (kanan) Marina Bay Sands dilihat dari bawah. Lumayan terinspirasi dari sisi keterbangunan di sini

Jadi terlihat berikon dan cukup berkarakter ya kotanya. Inspirasi yang lain

Silau, silau, silau. Henderson Bridge

 Bagian atas dari Vivo City. Banyak area kumpul publik yang dapat dinikmati yang kurasa memang berperan penting dalam menghidupkan ruang-ruang kota

Di sinilah aku waktu itu. haha.. Hutan Kota yang konsepnya cukup unik. Henderson Bridge

Studio Terakhir
            Biasanya, di arsitektur itu, satu semester adaaaa aja kelas yang mengharuskan kita di studio, bisa 6 sampai 12 sks lho satu mata kuliahnya. Mata kuliah dengan studio itu ada Seni Rupa, Teknik Komunikasi Arsitektur, juga Studio Perancangan Arsitektur dari 1 sampai 5. Nah, semester kemarin ini adalah waktunya Studio Perancangan Arsitektur 5 ku. Huhu... antara sedih dan senang. Sebentar lagi mau skripsi tapii, tiga setengah tahun kuliahnya ada studionya, tiba-tiba nggak ada itu pasti rasanya beda. Yaa, namanya juga waktu dan hidup, pasti akan berjalan terus dan berganti. Semoga semua nilai-nilai semester ini menyenangkan hati yah. aamiin...

Habis presentasi foto-foto dulu. Studio terakhir (PA5) bersama Ars 2010


By the way, ini hari ibu lho! Selamat hari ibu untuk semua ibu di dunia, semoga anak-anaknya menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah ya! Terspesial untuk mamahku, terima kasih mamah! :D  

Minggu, 16 Juni 2013

When the Time Wakes Me Up

Waktu itu, begitu cepat berlalunya, padahal dilewati setiap detiknya. Kita yang terlalu lambat, atau waktu yang begitu cepat? Sayangnya waktu itu tidak akan pernah menunggu. Seperti ini, tiga tahun menempuh ilmu berlalu, yang terasa begitu cepat. Banyak sekali pembelajaran yang sudah aku dapat. Masih ada satu tahun lagi, yang mungkin, bisa jadi sebagai media yang mengantarkanku menjadi sesuatu. Tergantung bagaimana aku mengarahkannya dan tergantung kehendak Allah swt.

Satu tahun ke depan itu, mungkin akan terasa cepat juga. Memkirkannya membuatku merasa pada masa itu mungkin akan menjadi salah satu masa pembuktian dalam hidup, tanggung jawab yang berbeda, serta pengabdian ilmu yang lebih pada masyarakat. Bukan lagi di balik tembok yang terkadang bisa memaklumi kita.

Semua ini adalah proses pembelajaran yang bisa saja terjadi perubahan-perubahan di dalamnya. Yang jelas, satu hal yang pastinya tidak boleh dilupakan dan perlu dilanjutkan, yaitu ilmunya. Ilmu yang tetap perlu terus dijaga dan dicari, serta diamalkan pada nantinya. Ilmu yang nantinya akan dicari lagi kelanjutannya, dijaga, lalu diamalkan lagi entah kapan dan di mana.

Ketika waktu menyadarkanku, membuatku sadar akan pentingnya rencana-rencana dan target-target yang sebisa mungkin terpenuhi. Mengingatkanku akan pentingnya ikhtiar dan tawakal. Mengingatkanku untuk selalu bisa bersyukur. Mengingatkanku untuk tetap terjaga. Dan bagaimanapun, proses ini masih berlanjut, dan ketika waktu menyadarkanku lagi pada nantinya, aku harap aku tidak menyesal. aamiin ya robbal'alamiin...

Minggu, 23 Desember 2012

Minggu, 23 September 2012

It's not a cup, nor a jar, it's a pot

What a surprising :D It's not a cup, nor a jar, but it's a pot.
intinya, perlu diingat bahwa a cup berarti cangkir kecil,
a jar dapat berarti kendi
a pot dapat berupa teko atau cangkir besaaaaaaarrrrrr :)
 

Amanah Itu

Sejatinya amanah itu,
Bukan karena kamu mampu
Bukan pula karena mereka merasa kamu mampu

Bukan karena kamu tahu kapasitasmu
Bukan pula karena mereka tahu kapasitasmu

Dan jangan sampai pula karena kemauanmu

Amanah itu kehendak Allah, rencana Allah atas kehidupanmu.

Bahkan sekiranya semua orang di sekitarmu berhimpun untuk menjauhkanmu dari
amanah itu, jika Allah tahu itu yang terbaik bagimu, maka Ia berikan amanah itu
kepadamu.

Bahkan sekiranya semua orang di sekitarmu bersepakat menyatakan bahwa kamu 
tak mampu, jika Allah tahu amanah itu jalan terbaik untuk meningkatkan kapasitas dirimu,
maka Ia berikan amanah itu kepadamu.

Bahkan sekiranya semua orang di sekitarmu berupaya maksimal agar seseorang
yang bukan dirimu yang mengemban amanah itu, jika Allah ingin mendidikmu 
dengan amanah itu, maka Ia berikan amanah itu kepadamu.

Bahkan sekiranya seluruh aibmu seketika memenuhi pikiranmu dan membuatmu
berhenti melangkah karena ragu. Jika Allah tahu amanah itu akan membuatmu menjadi
hamba yang semakin baik dan semakin dekat dengan-Nya, maka amanah
itu akan Ia berikan kepadamu.

Percayalah, ada Rencana Terbaik yang sudah Allah persiapkan.
Sikapilah dengan ikhtiar terbaik yang kamu lakukan,
Serta pertanggungjawaban terbaik yang bisa kamu persiapkan.
Sekali lagi, ini bukan tentang kamu dan mereka, ini tentang kamu dan Dia.
Dan melangkahlah dengan percaya, bahwa bersama-Nya semua akan baik-baik saja

dari buku PPSDMS kak Ifa

Kamis, 02 Agustus 2012

twenty

It's about twenty, when I woke up in the ninth of July this year..
It's about twenty, that they say you are not a child, even not a teen anymore..
It's about twenty, that they say the flame of the idealisme streaming with your mind..
It's about twenty, when the phrase 'it's up to you', or 'it's on your hand', then or 'you have your own way to be knitted'...
It's about twenty, some condition where you should make your life to be more mature...

It's about twenty..
Just about twenty...
when your age ration have twenty years away.

It's about twenty, and you have to know what you should do,
It's about twenty, and you have to know what you want really to be,
And about twenty, that why you want and how you realizing that. 

Cause you have to know, you have to think, you have to try, you have to pray, but you have not to cry.. keep enjoying.

Minggu, 25 Maret 2012

From One Knit to a Thing

My first handmade shawl :D It spent almost three months.....
Just because one knit, it was continued, should be continued to became a functional thing
not just a thing....

and also biggest thank's to Fathia Baroroh, the friend and the teacher who thought me how to knit. Thank you Phatyyyyy :D :D 


Kamis, 22 Maret 2012

mission, function, and purpose

Today, I  more understand why I'm here and why we are here. I'm here not because suddenly I should here, but because I'm a part of this world. And because of this, so I have my own function for this world. So, I believe that I should try to do my best function, and as my religion say that we are here not for nothing. And as we know, that
"best creature is someone who very useful for the other".
As my religion say so, that "the purpose for the created of human is just for praying to God" that also means, Do God's command and stay away from God's prohitbitation. And doing best for our function is one way to pray for my God.
So.... think first that this life not just alive. This life is a gift that we please to act based on our function. Yes, we can live in a life because we have mission, function, and individual purpose, and that's why we were created.

Kamis, 10 November 2011

Achieving for Freedom

It could be captured while observing the site, and then you realize that the grass is too important to be observed and you'll realize that this green object also has its own texture. So try to realize that.

Rabu, 12 Oktober 2011

THE BLUE SKY AND WHITE CLOUDS

I got this view in my house balcony. Soooo beautiful. And I don't know how this be created. Amazing.

This blue sky and white clouds are just one from other sign of how big is God, the beautiful One, the One who sent us to this planet, the One who give us much gifts until now. Thank's for everything.... :D

Senin, 03 Oktober 2011

wajib, tanggung, dan jawab

Tanggung jawab dan kewajiban memang sebisa mungkin kita laksanakan dengan usaha yang maksimal. Tapi bagaimana kalau kita tidak mampu memikulnya? Kata terlambat itu memang ada, itulah manusia, tidak bisa menyadarinya dari awal, karena mungkin memang butuh proses. Tapi, jangan sampailah tanggung jawab itu kita abaikan begitu saja, perlu penjelasan dan kejelasan dalam mengembannya. Perlu kejujuran dan keikhlasan dalam menjalankannya. Perlu kesabaran dan sikap cermat dalam amanatnya. Ada konsekuensi dibalik semuanya, tapi ada imbalan peluh dari setiap pengorbanannya. Tanggung jawab muncul dari diri setiap individu. Merupakan kesadaran menjalankan setiap kewajiban di dalamnya.

sepasang mata

Kenapa Dia menciptakan dua mata?
Mungkin salah satunya supaya manusia itu tidak memandang hanya dari satu sisi saja.

Minggu, 02 Oktober 2011

mobile

Menjadi orang yang mandiri dan bisa mobile sendiri sepertinya menyenangkan. Selain tidak membuang-buang waktu, juga dapat mempercepat pergerakan (mobilisasi). Contoh hari ini, mau pulang ke rumah aja bingung, antara nggak tahu jalan dan belum ada alat mobilisasinya. Tapi sepertinya untuk jadi orang yang mobile memang perlu tahu arah juga, baik arah tujuan secara fisik, maupun arah tujuan secara prospek. mobile, mobile, mobile.